1492940515_2-4.jpg

Review Khas : Brexit dan nasib Poundsterling (GBP)

Negosiasi perihal Brexit belum juga dilakukan namun prospek ekonomi negeri Inggris kedepan setelah keluar dari EU (European Union) sudah memperlihatkan dampaknya di bermacam sektor bisnis.

Ribuan pekerja terancam buat hengkang dari Inggris guna mempertahankan koneksi one-market dg negeri-negeri EU. Walaupun nggak ada model sistem yg dapat meramalkan dg pas apa yg akan terjadi kepada Inggris di tahun 2019 – pada saat Brexit diimplementasikan secara de yure, namun bermacam sektor industri, konsultan dan akuntan sudah merilis belasan laporan erkonomi tentang kemungkinan efek yg akan berdampak pada harga (produk dalam dan luar negeri) yg baru dan batasan-batasan (ekonomi, red) terhadap warga negeri Inggris.

Berikut ialah kesimpulan efek-efek yg sudah diterima Inggris

Ekonomi makro

Efek paling dramatis dari keputusan Brexit malahan datang pada saat pengambilan keputusan tsb dilakukan. GBP, mata uang Inggris mengalami depresiasi terbesar di tahun 2016 terhadap USD, pada saat para trader forex “bertaruh” bahwa lepasnya Inggris dari EU akan menimbulkan efek jangka panjang terhadap Inggris.

Minggu kemudian, terdapat sentimen positif setelah Perdana Menteri Inggris, Theresa May, memaparkan langkah-langkah yg akan diambil guna membuktikan stabilitas keadaan dan keamanan Inggris pasca implementasi Brexit di tahun 2019. Depresiasi yg dialami oleh Inggris sejak tahun 2016 menguntungkan bagi para eksportir di Inggris, dimana mereka sempat mencatatkan rekor ekspor tertinggi dalam 17 tahun terakhir. Namun depresiasi tsb merupakan pedang bermata dua, yg mana akan membuat inflasi menjadi lebih ganas, mengingat biaya yg dikeluarkan Inggris akan meningkat pasca depresiasi.

Di sisi lain, berlandaskan data dari Bank sentral Inggris, tingkat investasi diperkirakan akan berada di tingkatan yg lebih rendah 25% dari estimasi sebelumnya (yg dirilis sebelum referendum dilaksanakan). Dan lebih lanjut, di tahun 2016, terjadi penurunan jumlah investasi yg masuk ke Inggris sebesar -1.5%.

Konsumen di Inggris secara mengagetkan sukses bertahan selepas referendum, yg membuat pertumbuhan PDB berdiam pada tingkatan yg sehat dan Inggris terhindarkan dari resesi. Namun, kini terdapat pertanda ekonomi dimana para pembeli mulai kehilangan nilai mata uangnya (GBP) pada saat inflasi mulai terjadi.

Penjualan retail, yg mana merupakan komponen krusial dari jurusan konsumsi, turun sebesar 1.4% dalam kuartal pertama 2017, dan merupakan penurunan terbesar dalam satu kuartal sejak tahun 2010. Tak sedikit analis ekonomi memperkirakan angka tsb akan menjadi lebih buruk kedepannya.

Sektor Bank dan Jasa Finansial

Bulan januari kemudian, CEO dari London Stock Exchange memperingatkan bahwa Brexit akan membuat London kehilangan 230.000 kegiatan jika pemerintah nggak dapat mengalokasikan rencana ekonomi yg jelas setelah implementasi Brexit dijalankan. CEO dari Goldman Sachs divisi Eropa bilang hal yg senada. Beliau bilang bahwa perusahaannya akan merelokasi beratus-ratus pekerjanya di kota London sebelum perjanjian syarat dan ketetapan tentang Brexit berkesudahan dinegosiasikan dg EU.

Di sisi lain, sebagian kecil perusahaan lain sudah mengambil langkah yg lebih radikal / drastis. Transferwise, satu dari perusahaan fintech terbesar di eropa, memberikan statement akan memindahkan kantor pusatnya dari London ke wilayah Eropa yang lainnya pada Maret 2019 buat mempertahankan akses ke pasar EU setelah Brexit diimplementasikan. Bank dan perusahaan asuransi yang lainnya sudah bilang bahwa mereka akan membuka kantor cabang di wilayah EU, selain kantor yg mereka sudah buka di Inggris. Meskipun langkah tsb menimbulkan biaya tambahan, nggak berarti bahwa akan terdapat pengurangan lapangan kegiatan pada perusahaan tsb.

Otomotif

Jumlah mobil yg dibuat di Inggris menembus rekor tertinggi selama 17 tahun terakhir tahun kemudian dan demikian pula ekspor mobil oleh Inggris. Namun, jika Inggris nggak dapat membuat kesepakatan bisnis yg layak selepas implementasi Brexit, maka industri otomotif akan menanggung beban permanen dan nggak dapat dinormalisasi, ujar perwakilan dari Society of Motor Manufaturers and Traders di bulan Januari 2017 kemudian.

Dikarenakan persaingan ketat dari industri otomotif di luar Inggris, dan ketergantungan terhadap pekerja luar, maka dapat diperhitungkan bahwa industri otomotif ialah yg paling rentan terhadap efek dari Hard-Brexit (dimana Inggris melepaskan seluruhnya akses akan pasar EU, dan kembali memakai tuntunan WTO).

Faktanya, kepindahan Inggris ke naungan WTO selepas implementasi Brexit akan menimbulkan tambahan biaya sebesar 10% buat produk mobil dan 4.5% tambahan biaya buat komponen mobil.

Struktur dan Industri Manufaktur

Sama seperti industri otomotif, keadaan yg sama akan terjadi di sektor struktur dan manufaktur pada saat hasil negosiasi Brexit menelurkan batasan akan pergerakan pekerja, terutama pekerja dari luar Inggris (mengingat ketergantungan Inggris akan kecakapan pekerja luar).

Royal Institution of Chartered Surveyor, mengeluarkan laporan di bulan Maret yg mengonfirmasi bahwa akan terdapat pengurangan lapangan kegiatan sebesar 200.000 orang jika Inggris kehilangan akses ke pasar EU, dan merintangi jutaan poundsterling yg sudah dikeluarkan Inggris pada proyek-proyek infrastrukturnya. Hal tsb akan menjadi pukulan kuat bagi kota-kota besar di Inggris, terutama soal persaingan di ranah global.

Masih dalam konteks serupa, British Chamber of Commerce dan Confederation of British Industry sudah mengeluarkan peringatan akan kemungkinan efek yg akan diterima sektor-sektor industri di Inggris akan hasil negosiasi dan implementasi brexit kedepannya.

Makanan dan Minuman

Lebih dari setengah jumlah makanan yg dikonsumsi di Inggris merupakan hasil impor, yg berarti bahwa penurunan nilai mata uang GBP sekejap setelah keputusan buat keluar dari EU (Brexit, red) dikeluarkan sudah membuat harga-harga makanan dan minuman naik secara bertahap. Para supplier ialah yg pertama merasakan efek tsb, dan hingga saat ini melimpahkan beban mereka kepada konsumen tanpa ada subsidi atau kompensasi lain dari pemerintah. Sehingga, di kuartal pertama tahun 2017, terdapat penurunan jumlah penjualan retail sebesar 1.4% sebagai yang dsiebabkan dari akumulasi efek depresiasi nilai GBP dan angka inflasi

Tahun 2016 kemudian, sempat terdapat insiden yg merebak di masyarakat Inggris antara Tesco dan Unilever. Supermarket terbesar di Inggris tsb menolak adanya peningkatan harga beli terhapad beratus-ratus produk unilever. Produk Cadbury, Nestlé’s, Premier Food, juga mengalami peningkatan harga. Di sisi lain, perusahaan yang lainnya secara diam-diam sudah meminimalisir ukuran/berat bersih dari produk-produknya, sehingga harga yg mereka tawarkan nggak akan mengalami perubahan.

Ufi Ibrahim, kepala dari British Hospitality Association (BHA) memperingatkan bahwa restoran di Inggris akan memerlukan waktu yg lama buat menggantikan pekerjanya (dari EU) dg pekerja dari Inggris setelah Brexit diimplementasikan.

Source link

Terimakasih telah membaca Review Khas : Brexit dan nasib Poundsterling (GBP).Dan anda adalah pembaca yang ke 48 kalinya,semoga bermanfaat!