Skema Ponzi dalam Dunia Investasi

Di tahun 2009, Bernie Madoff dihukum penjara 150 tahun lantaran terbukti menjalankan satu dari skema penipuan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Dan sampai detik ini, hanya sebagian kecil dari korban penipuannya yg sudah mendapatkan ganti kerugian yg penuh lantaran tindakan Bernie. Memanfaatkan reputasinya di jurusan investasi dan sebagai pemodal terkemuka, Bernie Madoff sukses otentik ribuan pemilik modal buat menyerahkan modal mereka (yg kelebihan berasal dari celengan pensiun dan modal usaha mereka) dg janji memberikan keuntungan yg stabil serta rutin bagi nasabahnya. Dia akhirnya ditangkap pada bulan Desember 2008 dan dihadapkan dg 11 dakwaan penipuan, pencucian uang, sumpah tiruan, dan pencurian.

Waktu itu, Madoff memakai sistem yg dinamakan Skema Ponziyg dapat memukau calon nasabah dg memberikan jaminan keuntungan yg jauh lebih tinggi daripada produk-produk keuangan yang lainnya seperti celengan, deposito, reksadana, dan lain-lain.

Belakangan ini, di Indonesia mulai marak adanya perusahaan / orang yg memanfaatkan skema ini buat menghasilkan keuntungan pribadi. Sebut saja MMM, EMGC, VGMC. Dan terdapat satu dari perusahaan yg diduga menjalankan skema ponzi setelah menjalani pemeriksaan oleh Satuan Tugas Penanganan Hipotesis Tindakan Melawan Undang-undang di Jurusan Penghimpunan Modal Masyarakat dan Pengelolaan Investasi (Satgas Awas Investasi) dibawah OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Lantas, apakah sebenarnya Skema Ponzi tsb ? dan bagaimana cara kerjanya ?

 

Sejarah Skema Ponzi

Skema penipuan ini pertama kali dijalankan oleh Charles Ponzi ditahun 1919. Di masa tsb, tak sedikit penyedia layanan pos mulai mengembangkan sebuah wujud pelunasan bea surat internasional yg baru; ialah dg memakai kupon yg dapat dibeli secara internasional dan dapat dilampirkan dalam surat yg dikirim. Penerima surat tsb kemudian menukarkan kupon tsb pada kantor pos lokal dg perangko prioritas.

Dg adanya fluktuasi harga, harga dari perangko tsb bervariasi dari suatu negeri ke negeri yang lainnya. Ponzi kemudian merekrut sebagian kecil orang buat membeli kupon internasional dg harga terjangkau dan kemudian menukarkannya dg perangko yg mempunyai harga lebih tinggi daripada kupon tsb. Perangko tsb kemudian dia jual buat mendapatkan keuntungan.

 

Praktek bisnis seperti itu sebenarnya sah dimata undang-undang. Namun Ponzi nggak puas sampai situ saja, dia kemudian dg rakus melebarkan jangkauan usahanya. Dg memakai reputasi dari perusahaan yg dimilikinya, Securities Exchange Company, dia menjanjikan keuntungan sebesar 50% dari modal awal yg disetor dalam waktu 45 hari, atau modal awal nasabah dapat menjadi dua kali lipat dalam waktu 90 hari. Calon nasabah tertarik lantaran melihat kesuksesan Ponzi dalam menjalankan bisnis tukar-menukar kupon internasional-perangko prioritas.

Namun disinilah mulai timbul persoalan, alih-alih menginvestasikan modal dari nasabah kedalam bisnis tukar-menukarnya, Ponzi malahan mendistribusikan ulang modal dari nasabahnya dan bilang kepada mereka bahwa mereka sudah menghasilkan keuntungan.

 

Cara Kerja dari Skema Ponzi

Langkah pertama yg dilakukan oleh pelaku penipuan dg memakai skema ponzi ialah dg meraih kredibilitas lebih dulu. Wujud dari kredibilitas ini dapat berupa perusahaan yg sudah sukses dan malang melintang di dunia perekonomian, wujud usaha yg sudah sukses dan meraih keuntungan yg nggak sedikit, status sebagai tokoh masyarakat, ataupun hanya hanyalah pernah dipercaya memanajemen modal segelintir orang saja (3-5 orang). Sehingga hampir seluruh orang bisa menjadi pelaku dari penipuan skema ponzi ini.

Setelah mendapatkan pengakuan kredibilitas yg cukup, maka pelaku kemudian akan mengembangkan dan menawarkan peralatan buat menjalankan skema ponzi berupa peluang bisnis baru atau hal apasaja yg dapat memberikan keuntungan dalam wujud apasaja kepada calon nasabah. Pelaku akan mengemas penawarannya semenarik mungkin agar dapat otentik calon nasabah. Namun, yg membedakan dg penawaran investasi yang lainnya ialah besaran keuntungan yg ditawarkan oleh pelaku. Kebanyakan pelaku memberikan penawaran keuntungan yg melewati batasan kelaziman. Perlu menjadi catatan bahwa rata-rata return / keuntungan yg ditawarkan oleh jenis investasi reksadana saham (dalam golongan beresiko tinggi) hanya sebesar 15-16% pertahunnya. Di sisi lain, sebagian besar pelaku skema ponzi akan menawarkan keuntungan kepada calon nasabahnya sebesar 30-50% (bahkan bisa mencapai 100%) dalam jangka waktu 1-4 bulan saja.

Jumlah profit tsb hanya digunakan buat menarik minat calon nasabah agar mau menanamkan dananya dalam skema yg sudah dirancang oleh pelaku, dan kemudian menggerakkan jenis penipuan ini.

Marilah kita asumsikan bahwa keuntungan yg ditawarkan ialah 50% perbulannya.

Di bulan Juli 2017, pelaku sukses mengumpulkan modal dari nasabah awal sebesar 1 Milyar Rupiah. Maka, dibulan Agustus 2017, pelaku perlu mengalokasikan modal sebesar 1,5M (1M modal awal nasabah; dan 0,5M sebagai keuntungannya). Jika modal tsb berada dalam penguasaan pelaku investasi yg sebetulnya, modal tsb akan dikelola kedalam wujud investasi yg dijanjikan dan kemudian keuntungannya akan dikasihkan kepada para nasabah. Namun, para pelaku skema ponzi nggak pernah melangsungkan tsb; kalaupun ada modal yg dimasukkan, besaran dananya rata-rata kecil.

Langkah yg diambil pelaku penipuan skema ponzi buat mengalokasikan keuntungan tsb ialah dg menghimpun modal yg jauh lebih tak sedikit dari calon-calon nasabah baru. Di bulan Agustus 2017, pelaku dapat mengantongi modal dari nasabah baru sebanyak 2M. Modal tsb kemudian dikurangi 0,5M buat dibayarkan kepada nasabah awal sebagai keuntungan investasi. Nasabah awal yg sudah mendapatkan keuntungan kemudian akan mempromosikan usaha dari pelaku penipuan ini kepada teman-temannya; yg kemudian malahan mempermulus langkah pelaku kedepannya.

Maka, di akhir bulan Agustus 2017, total modal yg berada di tangan pelaku skema ponzi ialah sebesar 3M. di bulan setelah itu, pelaku perlu mengalokasikan modal sebesar 1,5M sebagai keuntungan dari Nasabah awal dan nasabah baru di bulan Agustus 2017.

Jika pelaku sudah sampai pada fase ini, maka langkah setelah itu yg akan diambil pelaku ialah terus mengumpulkan modal dari nasabah baru dibulan-bulan setelah itu, buat melunasi keuntungan pada nasabah sebelumnya. Dan akan berlangsung terus-terusan.

Namun, jika pelaku nggak dapat lagi menghimpun modal dari calon nasabah baru, maka skema ponzi akan hancur lantaran pelaku nggak dapat membayarkan keuntungan pada nasabah sebelumnya dan para nasabah tsb akan mengalami kesulitan buat menarik dananya dari pelaku. Pada fase ini, umumnya pelaku akan segera melarikan diri dan mengusung seluruh modal yg sukses dihimpunnya dari nasabah-nasabahnya.

Source link

Terimakasih telah membaca Skema Ponzi dalam Dunia Investasi.Dan anda adalah pembaca yang ke 211 kalinya,semoga bermanfaat!